RETHINKING CONTENT AND LANGUAGE INTEGRATION: A REVIEW ON INDONESIAN INTERNATIONAL STANDARD SCHOOL PROJECT
DOI:
https://doi.org/10.35127/kabillah.v8i1.300Keywords:
Integrasi konten-bahasa, RSBI, Budaya, KurikulumAbstract
Abstrak:
Studi ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis implementasi Proyek Sekolah Standar Internasional Indonesia sebagai salah satu bentuk pendidikan kedinasan dengan integrasi muatan dan bahasa Indonesia. Dalam studi ini, kasus proyek RSBI dibahas melalui konsep integrasi konten-bahasa dan budaya sebagai sistem representasi Stuart Hall. Studi ini menemukan bahwa terdapat dua tantangan utama selama pelaksanaan proyek RSBI, pertama, pencapaian pembelajaran bahasa Inggris hanya menunjukkan sedikit peningkatan. Kedua, penolakan penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam proyek RSBI yang berujung pada penghentian proyek itu sendiri. Sebagai kesimpulan, penelitian ini menawarkan dua saran sebagai pemikiran ulang program integrasi konten dan bahasa di Indonesia. Pertama, pertimbangan mendalam tentang prioritas pembelajaran bahasa di Indonesia. Kedua, kesiapan pemangku kepentingan dan agen akar rumput di tingkat sekolah. Pada akhirnya, disarankan agar implementasi program integrasi konten dan bahasa harus dimulai dengan pertimbangan yang mendalam dan hati-hati pada aspek budaya dari konteks langsung.
Abstract:
This study aims to critically examine the implementation of Indonesian International Standard School Project as a form of official education with content and language integration Indonesia. In this study, the case of RSBI project is discussed through the concepts of content-language integration and culture as a system of representation of Stuart Hall. The study found that there are two main challenges during the implementation of RSBI project, first, the attainment of English language learning only shows slight increase. Second, the rejection of using English as medium of instruction in RSBI project which results to the discontinuation of the project itself. As a conclusion, this study offers two suggestions as a rethinking of content and language integration program in Indonesia. First, in depth consideration of language learning priority in Indonesia. Second, the readiness of stakeholders and grassroots agents at school level. Ultimately, it is suggested that the implementation of content and language integration program should begin with a deep and careful consideration on cultural aspect of the immediate context.